OLEH: RIKA RAHAYU
Sinar keemasan sudah menerobos dari tadi, tak mampu dibendung tirai coklat yang menjuntai sampai lantai, aku menggeliat, mulai membuka mata dan menatapi ruangan gelap yang perlahan menjadi terang.
Kupaksakan diri untuk bangun dan mengguyur tubuhku di kamar mandi sebelum kuakhiri hariku di kantor yang melelahkan itu.
Aku bekerja di salahsatu perusahaan asing yang bergerak di bidang alat kesehatan, demikian kesibukanku setiap hari yang kunikmati ini.
Sejak dulu, aku selalu mendambakan seorang laki-laki tegap dan berkulit putih, dan itu telah kudapatkan sejak sebulan yang lalu. Aku memiliki seorang pria yang kudapatkan melalui aplikasi tercanggih saat ini, dari sebuah merek handphone yang biasa para remaja menyebutnya BBM (blackberry messenger).
Kali pertama kami bertemu, dari sekian lama kami meluapkan kekaguman di BBM,
akhirnya dia menyatakan cintanya kepadaku. Aku tersipu dan mengakui perasaan yang sama.
Kulitnya terang dan bersih sejenak bisa menenangkan setiap keluhku tiap kali menemuinya,
meski hubungan kami baru satu bulan tapi aku menyayanginya lebih dari yang kutahu.
Sayang itu lahir sekejap mata, pertemuan pertama dan entah berapa puluh pertukaran pesan melalui jagat maya dan komunikasi selular setelah pertemuan itu, aku sadar hatiku jatuh terlalu dalam padanya. Cinta itu lahir tanpa permisi, seperti Tuhan yang kadang mengetuk pintu kehidupan kita tanpa diminta. Aku pernah berpikir untuk sesuatu yang tak wajar ini, mengapa aku bisa mencintai pria yang baru kukenal itu dengan sangat dalam,
seharusnya aku hanya menjadikan dia temanku, seharusnya aku tidak jatuh cinta padanya, seharusnya aku sadar dari dulu,
aku tahu itu lebih dari caraku menghafal perkalian matematika.
Lebih jelas dari satu ditambah satu sama dengan dua, tapi aku mulai mengabaikan itu, betapa aku berusaha jadi pandai dan berkelas di depannya, agar dapat membuatnya takluk dan bisa mencintaiku seperti yang kualami padanya. Dan itu kusebut berhasil, sejak dia menyatakan keseriusannya untuk segera menikahiku di bulan ini,
tapi aku tahu persis bagaimana aku takut dengan sebuah pernikahan, bahwa aku tidak siap untuk terikat dengan banyak hal,
bahwa aku takut suatu hari akan mengalami pertengkaran hebat dalam rumah tanggaku.
Dengan alasan sedemikian itu, membuatku belum mampu memberinya sebuah jawaban sebelum dia akhirnya berangkat, dia ditugaskan untuk ke luar kota untuk beberapa hari oleh pimpinannya.
Berhari-hari aku berusaha memanfaatkan kesempatan ini dan membuat diriku yakin bahwa aku mampu mengendalikan semua yang kutakutkan selama ini.
Dibalik semua ini, sesungguhnya aku pun menyimpan kata “iya” untuk diriku sendiri, setidaknya selama 14 hari sebelum dia kembali,
akan aku jadikan jawaban ”iya” yang paling mantap ini sebagai surprise buatnya.
Aku mulai membayangkannya sambil tersenyum sendiri tak peduli posisiku sedang dimana, pikiranku fokus untuk kerinduanku dalam pelukannya.
Tak henti kubayangkan ekspresiku nanti saat detik-detik dia akan menangihku untuk jawaban yang pasti, jawaban untuk hidup bahagia selamanya dengannya, dan dengan tersipu aku akan menjawabnya dengan cepat, “iya”. *_*
Hariku penuh dengan penantian,
hingga sampailah aku ke titik itu.
Titik yang tidak pernah kuimpikan dan semua orang pun tahu ini adalah sakit yang tak ada pengobatnya.
Yaah..., memang ini adanya. Bukan salah siapa-siapa.
Aku hanya berharap bisa bersamanya lebih lama, tapi semua sudah berubah, saat kepulangannya.
Dia benar telah menyiapkan penikahannya tanpa sepengetahuanku, aku berharap itu surprise yang akan dia beri untukku seperti surprise “iya” yang akan kuberinya nanti saat pulang.
Aku menunggu dan terus menunggu kedatangannya untuk menagih jawaban “iya”ku,
Tapi tidak...!
Itu seperti akan membunuhku dalam setiap ingatanku tentangnya.
Aku tak pernah menyangka, dia menyiapkannya untuk wanita lain, wanita yang sangat dia cintai sebelum aku.
Wanita yang hampir membunuhnya karena sakit hati yang luarbiasa ketika wanita itu meninggalkannya demi laki_laki lain,
tapi entah karena hal apa dia kembali kepada pria yang sekarang kusebut kekasihku itu, dia kembali mendapatkan kesempatan terakhirnya dari kekasihku, dan dengan alasan cinta yang masih sama mereka menyiapkan pernikahan itu di bulan ini.
Iya, bulan ini.
Bulan dimana dia menjanjikanku pernikahan, bulan dimana aku pernah bermimpi akan menjadi seorang pengantin wanita yang sangat cantik dan paling bahagia di seluruh jagat raya.
Aku yang tak punya tubuh sekuat baja hanya bisa menghabiskan hari-hariku duduk dengan mata basahku di bangku taman favorit kami, saat seorang temannya menemuiku,
menceritakan hal sadis ini kepadaku dan memperlihatkan undangan pernikahan mereka yang telah lewat 2 hari yang lalu itu.
Aku samasekali tak tahu lagi harus berbuat apa, aku merasa ini adalah akhir duniaku.
Aku tak punya daya sedikitpun untuk mencegahnya, kini aku hanya seorang wanita sakit yang samasekali tak ingin memaksanya untuk kembali mengulurkan tanggung jawab padaku jika itu cuma akan menderanya,
dia layak untuk bahagia seperti aku yang dulunya bermimpi bahagia bersamanya.
Tapi pahit ini benar telah membuat seisi duniaku menjadi kisah mati.
Banyak sakit yang dia sisakan untukku, aku sakit saat dia menyatakan keseriusan kepadaku dan akhirnya dia menikah dengan wanita lain,
aku sakit saat pernikahan dua hari yang lalu itu hanya bisa kuketahui dari orang lain,
aku sakit saat dia menjadi pengecut yang tak pernah menanyakan jawaban “iya”ku yang telah kusiapkan sekian lama itu,
aku sakit saat tahu pernikahannya dari orang lain bukan dari bibirnya sendiri.
Aku lantas berpikir, akankah aku yang menjadi kekasihnya selama ini ternyata hanya jadi sampah dari otaknya, hanya menjadi hiasan dan pelarian dari wanita itu.
Aku tak pernah mengharap dia kembali meminta sepucuk maaf dariku,
namun setidaknya dia kembali dan membiarkan aku menyampaikan apa yang tak pernah tuntas diucapkan bibirku, sekali saja.
Bahwa Aku mencintai tawa lepasnya, tarikan sudut bibirnya, senyum lebarnya.
Pundaknya yang selalu kutempati mengeluh tentang dunia, lengan-lengannya yang besar.
Aku mencintai kening lebarnya, mata teduhnya, bibirnya merahnya.
Aku mencintai caranya menatapku. Aku mencintai kecupannya yang berkali-kali.
Aku mencintai pelukannya lebih dari kecintaanku pada hujan.
Aku mencintainya lebih dari hamparan pasir hangat, merdu gelombang laut, semburat keemasan senja, dan lengkungan pelangi.
Aku mencintainya lebih dari semua keindahan yang pernah kutemui di muka bumi.
Serumit dan sesederhana itulah aku menyayanginya.
Dan kini keseharianku hanya kuhabiskan di sudut jendela sambil mengunyah permen yang tak pernah kutahu rasanya ini.
.jpeg)
.jpeg)