Selasa, 17 Maret 2015

DEAR ANDHY

OLEH : RIKA RAHAYU

Hy Apa kabar dhy?


Belakangan ini aku sibuk dengan tulisan-tulisanku. Di antara tulisan itu, di dalamnya ada artikel tentang kamu juga. Judulnya “PRIA YANG TERLALU HEBAT UNTUKKU, karena artikel itu aku tulis setelah kita berpisah. Sejujurnya, dari sekian banyak tulisanku, aku selalu ingat ada senyum kamu yang bergantung pada ingatanku saat menulis tulisan itu, bahkan sampai detik ini ketika aku mengedit dan membacanya berulang.
Aku nggak nangis waktu kita pisah ataupun tak ada kabar tentangmu lagi, tak ada SMS selamat pagi,dan selamat tidur untukku lagi, aku bahkan nggak nangis waktu memutuskan untuk menjauhimu, aku pikir kamu udah bahagia. And I did believe so kamu tampak tenang sekali di sana, di peti itu. kamu kurus, tapi kamu seperti tersenyum. Seakan ingin bilang ke semua orang, “aku udah nggak apa-apa. Kalian bisa berhenti khawatir.” Tapi sekarang aku nangis dhy.
Andhy kangen banget dengan kamu, kangen senyuman kamu, kangen makan bareng lagi, kangen ketawa-ketawa lagi.
dhy, kenapa kamu membuatku nangis seperti ini? Kenapa beberapa hari ini air mataku nggak bisa berhenti inget kamu? Berapa tahun sejak kamu pergi? Sejak hubungan kita berakhir bersamaan tepat dengan hembusan napas terakhirmu. tiga? empat? lima? Aku bahkan sudah lupa kapan hari itu terjadi, dan sekarang rasanya aku rela ngasih apa saja supaya bisa ketemu kamu sekali lagi dhy, ketika kamu masih bisa senyum, ketika aku masih bisa gangguin kamu yang sedang tidur, dan saat-saat kita bisa sama-sama ketawa.
Di atas sana kayak apa, dhy? Indah atau nyakitin?
dhy, aku nggak pernah dapet kesempatan untuk ngomong ini ke kamu. Tapi sekarang aku mau bilang. Terima kasih karena udah pernah ada di hidupku. Terima kasih udah jadi kekasihku waktu itu. Terima kasih untuk tahun-tahun indah yang kita lewati bareng-bareng. Terima kasih untuk setiap senyum dan tawa yang pernah kita bagi, yang masih bisa aku kenang sampai sekarang ketika kamu udah nggak ada, kamu nggak akan pernah tahu betapa berartinya itu semua, ketika segalanya lenyap, membiarkanku menjalani hidup sendiri tanpa kamu, yang tersisa cuma kenangan. Dan kenangan itu aku jaga, karena aku belum mau lupa.
Tapi dhy, sekarang aku sedang hidup dengan seorang pria yang sifatnya sama persis denganmu, aku memilihnya karena dengannya aku bisa menemui kamu yang dulu, namanya pun persis denganmu. Aku harap kamu ngga akan marah padaku dhy.








R.R

Tidak ada komentar:

Posting Komentar